Jangan Jadi Gelas

Saya ingin berkongsi satu artikel yang saya baca dalam akhbar minggu lepas. Sejak menerima dugaan paling besar dalam hidup saya semasa bulan Ramadhan yang lepas, saya merasakan artikel ini sangat menarik dan sangat memberi inspirasi. Bacalah ye..


Seorang guru sufi mendatangi salah seorang muridnya. “Kenapa kau selalu tampak murung nak? Bukankah banyak perkara yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang guru bertanya. “Guru, kebelakangan ini hidup saya penuh masalah,” jawab murid. Sang guru tersenyum. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah ke mari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Dengan tidak bersemangat, si murid melaksanakan permintaan gurunya itu.

“Cuba ambil segenggam garam dan masukkannya ke dalam segelas air itu. Setelah itu cuba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis kerana meminum air masin. “Masin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih mengernyih. Sang guru ketawa kecil melihat wajah muridnya yang menyeringai kemasinan. “Sekarang kau ikut aku.” Sang guru membawa muridnya ke anak sungai berhampiran tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa dan taburkan ke anak sungai. Sekarang, cuba kau minum air sungai itu,” kata sang guru.

Si murid mengambil air sungai menggunakan tangannya. “Ahh, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan telapak tangan. Tentu saja, air sungai itu berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air sungai ini juga menghilangkan rasa masin di mulutnya. “Terasakah masin garam yang kau taburkan tadi?” soal guru. “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

“Nak, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diqadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, begitu-begitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.”

“Tidak ada satu pun manusia yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid terdiam mendengarkan. “Tapi nak, rasa ‘masin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak berasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu seperti air sungai.”

Sebaik saja saya membaca artikel ini, saya yakin bahawa dugaan yang Allah berikan kepada saya itu memang diberikan untuk menguji ketabahan hati saya. Alhamdulillah, berkat sokongan kawan-kawan di sekeliling, dugaan itu dapat saya tempuhi. Saya sempat bersedih sehari saja. Rugi buang air mata. Hiks!


~ by xxujiexx on October 20, 2007.

4 Responses to “Jangan Jadi Gelas”

  1. aku nak mandi sungai la.. tapi sungai dah banyak tercemar.. camner? insaf aku sekejap bila baca kisah ko nii.. huhuhu

  2. Ujie,
    Apasal lak sedih sehari je? apakah yang telah terjadi pada dirimu? katakanlah !!! Tapi kalau takat putus cinta jgn citelah. Tadi kan main… Kau becinta ngan laki org keeee…..

    Fieza,
    Blakang rumah saya ade sungai, tak tercemar tapi airnya memang hitam psal tanah gambut.

  3. cik ujie, best artikel jgn jd gelas nie..mninggalkan kesan yg mendalam dp jiwa.huhu

  4. cik ujie kalau kite kempen kat sume orang suh tgk “hati malaya” pas ni aku kempen jg kat kojej suh orang baca artikel ni kat blog ko…
    bukan mkn luar tau tapi makan dalammm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: